Polsek Babelan Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir Rob di Desa Hurip Jaya

Babe News - Bekasi, Banjir rob kembali melanda wilayah pesisir Kabupaten Bekasi, termasuk Desa Hurip Jaya di Kecamatan Babelan. Pada Minggu (7/12/2025) siang, jajaran Polsek Babelan turun langsung ke Kampung Tanah Baru RT 07 RW 03 untuk memberikan dukungan kepada warga yang terdampak.

Kapolsek Babelan Kompol Wito bersama Kanit Binmas AKP Suwari, Bhabinkamtibmas Bripka Hanif Wijayanto, dan Brigadir Aldi Saputra mendatangi lokasi banjir seraya membawa paket bantuan. Mereka disambut oleh perangkat desa, seperti Trantib Desa Hurip Jaya Maspur, Kepala Dusun Sarman, serta Ketua RT Masdani.

“Kami menyerahkan langsung 20 paket beras untuk membantu warga yang sedang menghadapi banjir rob,” ujar Kompol Wito.

Banjir rob yang terjadi di Desa Hurip Jaya dan Desa Samudra Jaya, Kecamatan Tarumajaya, sudah berlangsung sejak Rabu (10/12/2025). Selama lima hari terakhir, air pasang mencapai ketinggian hingga sekitar 80 cm. Meski wilayah tergenang cukup tinggi, warga memilih bertahan di rumah masing-masing tanpa mengungsi.

Fenomena banjir rob ini bukanlah kejadian baru bagi masyarakat setempat. Sepanjang tahun 2025 saja, banjir rob tercatat sudah terjadi sekitar delapan kali—jumlah yang jauh lebih sering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya mengalami dua kejadian per tahun.

Sumber : tribunnews
Editor : Tia
Share:

Saat Dedi Mulyadi Dicari Anak-anak Sekolah di Muara Gembong

Babe News - Bekasi, Setiap hari, anak-anak di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, harus berjuang keras hanya untuk bisa sampai ke sekolah. Wilayah pesisir yang kerap diterjang banjir rob membuat akses darat rusak parah. Tak heran, sebagian siswa terpaksa bergantung pada perahu kecil hingga speed boat untuk berangkat sekolah.

Harapan mereka sederhana: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, datang langsung melihat kondisi mereka dan memperbaiki akses menuju sekolah.

Akses yang Semakin Sulit

Di Desa Pantai Bahagia, satu-satunya jalur darat menuju sekolah hanyalah jalan sempit selebar 2–2,5 meter yang berada di antara permukiman warga dan aliran Sungai Citarum. Di sisi belakang rumah penduduk, laut tanpa tanggul membuat kawasan ini tergenang hampir setiap minggu.

Banjir rob itu bukan hanya sekadar air masuk rumah. Air pasang merusak infrastuktur jalan—tanah merah berubah licin, bebatuan tajam bermunculan, lumpur menumpuk, hingga paving block yang pernah dipasang kini kembali hancur.

Kondisi ini membuat banyak pelajar memilih perjalanan air sebagai satu-satunya opsi.

Kisah Putri: Berangkat Sekolah Dijemput Speed Boat

Putri (14), siswi MTs Nurul Ihsan di Kampung Blukbuk, setiap jam 06.00 WIB sudah menunggu perahu penjemputan di depan rumahnya di Kampung Gobah. Speed boat yang ia gunakan merupakan bantuan dari perusahaan swasta.

“Butuh sekitar 30 menit ke sekolah. Jalan darat sebenarnya ada, tapi rusak banget. Mau jalan kaki susah, naik motor juga enggak nyaman,” ujarnya.

Baginya, perjalanan dengan perahu memiliki dua sisi. “Seru sih naik perahu, tapi kalau arus kencang suka takut juga,” katanya sambil berharap besar agar Gubernur Dedi Mulyadi memperhatikan kondisi mereka.
“Kang Dedi, tolong lihat langsung kondisi di sini. Jalanan pengin banget dibenerin.”

Faris: Sudah Terbiasa Dengan Ombak Tinggi

Faris (13) yang tinggal di Muara Bendera juga sepenuhnya bergantung pada perahu untuk berangkat ke sekolah yang sama. Ia tinggal di rumah panggung bersama ibunya yang sedang hamil dan ayah tirinya.

Perjalanan dengan speed boat memakan waktu 45 menit hingga satu jam. “Enggak takut, udah biasa. Tapi kalau hujan buru-buru ke perahu. Pernah ombaknya tinggi banget, ya takut sedikit,” kata Faris.

Ia pun berharap hal yang sama: jalan layak untuk anak-anak sekolah.

Tidak Semua Bisa Menumpang Perahu

Berbeda dengan Putri dan Faris, anak-anak di Kampung Beting tidak bisa memanfaatkan jalur air karena sungai terlalu sempit untuk dilalui perahu.

Mereka harus berjalan kaki sekitar 30 menit melewati jalan rusak dan berbatu. Syifa (14) mengaku iri melihat teman-temannya yang bisa naik perahu. Sementara Zaskia (15) mengatakan perjalanan makin berat saat hujan deras.

“Kalau hujan bisa 40 menit. Ada sekitar 10 orang yang jalan dari Kampung Beting,” kata Zaskia.

Dampak Serius pada Pendidikan

Menurut pengamat pendidikan, Ina Liem, kondisi perjalanan yang berbahaya ini menurunkan minat belajar.
“Motivasi, fokus, dan rasa aman anak pasti terganggu kalau tiap hari harus menempuh perjalanan ekstrem seperti ini,” ujarnya.

Ia menilai persoalan Muara Gembong adalah akumulasi problem besar yang sudah berlangsung puluhan tahun. Minimnya transparansi data, koordinasi antarlembaga, hingga lemahnya audit anggaran daerah membuat pembangunan tidak berjalan optimal.

Anak-anak pun menjadi korban, harus naik perahu kecil tanpa pelampung berbayar sementara beberapa sekolah swasta justru memiliki bantuan perahu gratis dari CSR.

“CSR itu bisa membantu, tapi tidak boleh menggantikan fungsi negara,” tegas Ina.

Sumber : kompascom
Editor : Tia
Share:

Prabowo Minta Mendagri Copot Bupati Aceh Selatan yang Umrah Saat Wilayahnya Dilanda Bencana

Babe News - Bekasi, Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian serius terhadap sikap Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, yang diketahui melakukan perjalanan umrah saat daerahnya tengah dilanda banjir dan longsor. Dalam rapat percepatan penanganan bencana di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Minggu (7/12), Prabowo meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk segera memproses pencopotan Mirwan dari jabatannya.

“Kalau memang mau pergi, ya silakan. Tapi konsekuensinya dicopot Mendagri, bisa ya, diproses,” tegas Prabowo. Ia bahkan membandingkan tindakan tersebut dengan kasus “desersi” dalam dunia militer, yakni melarikan diri ketika keadaan bahaya dan meninggalkan anak buah. “Itu tidak bisa dibenarkan,” lanjutnya.

Mirwan Umrah Tanpa Izin di Tengah Bencana

Prabowo mengeluarkan pernyataan tersebut karena Mirwan MS meninggalkan wilayahnya yang sedang terdampak banjir dan longsor untuk menunaikan ibadah umrah. Inspektorat Jenderal Kemendagri sebelumnya sudah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Mirwan, namun pemeriksaan itu harus dijadwalkan ulang akibat keberangkatan mendadak sang bupati.

Padahal, bencana di Aceh Selatan melanda 11 kecamatan, membuat sebagian warga—terutama di kawasan Trumon—terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat.

Surat Ketidaksanggupan dan Permohonan Izin yang Ditolak

Mirwan sempat mengeluarkan surat pernyataan ketidaksanggupan untuk menangani tanggap darurat banjir dan longsor pada 27 November 2025. Namun, selang beberapa hari kemudian, tepatnya 2 Desember, ia malah berangkat umrah bersama keluarganya.

Permohonan izin perjalanan ke luar negeri sebenarnya telah diajukan Mirwan kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), pada 24 November 2025. Namun Mualem sudah menolaknya secara resmi karena Aceh sedang dilanda bencana hidrometeorologi. “Permohonan itu sudah dibalas secara tertulis dan tidak dikabulkan,” jelas Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA.

Dampak Bencana dan Laporan dari Lapangan

Dalam rapat tersebut, Prabowo juga menyinggung kondisi lapangan yang menurut laporan sangat memprihatinkan. Banyak lahan pertanian rusak, irigasi bermasalah, serta sejumlah rumah warga membutuhkan bantuan pembangunan ulang. Ia mengapresiasi para kepala daerah yang tetap berada di lapangan untuk membantu masyarakat.

“Terima kasih kepada para bupati yang terus bekerja. Kalian dipilih untuk menghadapi kesulitan bersama rakyat,” ujarnya.

Reaksi Partai Gerindra

Langkah Mirwan yang meninggalkan warganya saat bencana turut mendapat respons dari Partai Gerindra. Partai tersebut resmi memberhentikan Mirwan dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan.

“Keputusan ini diambil karena sikap dan kepemimpinan yang sangat disayangkan,” ujar Sekjen Gerindra, Sugiono, pada Jumat (5/12).

Sumber : CNN Indonesia
Editor : Tia
Share:

Berita Populer