Dedi Mulyadi Hentikan Sementara Izin Pembangunan, DPRD Jabar Nilai Langkah Ini Mendesak untuk Cegah Bencana

Babe News - Jabar, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara izin pembangunan perumahan, hotel, restoran, kafe, hingga destinasi wisata di sejumlah wilayah. Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya pencegahan terhadap meningkatnya risiko bencana alam seperti banjir dan longsor yang belakangan kerap terjadi di Jawa Barat.

Langkah tersebut mendapat dukungan penuh dari DPRD Jawa Barat. Para legislator menilai kebijakan itu bukan hanya tepat, tetapi juga mendesak mengingat kondisi lingkungan yang semakin rentan akibat cuaca ekstrem dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, MQ Iswara, menegaskan bahwa penghentian sementara izin pembangunan ini bukan keputusan mendadak. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari regulasi yang sudah diterbitkan sebelumnya, yakni Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan.

“Penghentian izin ini sudah melalui tahapan regulasi. Pergub tentang alih fungsi lahan sudah lebih dulu diterbitkan, kemudian diperkuat dengan sejumlah surat edaran,” ujar Iswara di Bandung, Selasa (16/12/2025).

Iswara menjelaskan, setelah Pergub tersebut, Gubernur Dedi Mulyadi menerbitkan beberapa surat edaran secara beruntun pada 13 dan 14 Desember 2025. Surat Edaran Nomor 177 mengatur penghentian sementara izin pembangunan perumahan di kawasan Bandung Raya. Selanjutnya, Surat Edaran Nomor 180 memperluas kebijakan tersebut ke seluruh wilayah Jawa Barat.

Tak berhenti di situ, pada 14 Desember 2025, gubernur kembali mengeluarkan Surat Edaran Nomor 10565 yang memperluas cakupan penghentian izin, tidak hanya pada perumahan, tetapi juga pembangunan hotel, restoran, kafe, dan destinasi wisata yang berada di kawasan rawan bencana.

“Total ada empat kebijakan yang dikeluarkan gubernur. Semuanya bertujuan untuk meminimalkan risiko bencana di Jawa Barat,” jelas Iswara.

Ia menambahkan, DPRD Jawa Barat sebenarnya telah lama mendorong agar pemerintah provinsi menerapkan moratorium atau penghentian izin pembangunan, terutama di wilayah yang memiliki potensi bencana tinggi. Dengan adanya penghentian sementara ini, pemerintah daerah memiliki waktu untuk melakukan kajian menyeluruh bersama pemerintah kabupaten dan kota.

Kajian tersebut, lanjut Iswara, meliputi beberapa aspek penting, mulai dari lokasi pembangunan yang berada di kawasan rawan bencana, kesiapan mitigasi bencana, hingga kesesuaian pelaksanaan Persetujuan Bangun Gedung (PBG) yang sebelumnya dikenal sebagai IMB.

“Dalam PBG juga ada kewajiban reboisasi dan penanaman kembali. Itu harus dicek, apakah benar-benar dilaksanakan atau hanya sebatas administrasi,” katanya.

Melihat pentingnya kebijakan ini, DPRD Jawa Barat juga berencana mendorong agar pengaturan terkait perlindungan lingkungan dan pengendalian pembangunan dapat diperkuat dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda). Langkah tersebut dinilai perlu agar kebijakan memiliki kekuatan hukum yang lebih permanen.

“Kami akan mendorong pembahasan di Badan Legislasi DPRD. Jika Perda yang ada belum cukup, maka perlu direvisi atau disusun Perda inisiatif baru agar perlindungan lingkungan di Jawa Barat lebih kuat,” ujar Iswara.

Sumber : republika
Editor : Tia
Share:

Cakupan Cek Kesehatan Gratis di Jawa Barat Masih 18 Persen, Jauh dari Target Nasional

Babe News - Bekasi, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan di Provinsi Jawa Barat belum menunjukkan hasil sesuai harapan. Meski telah berjalan hampir satu tahun, capaian layanan kesehatan ini masih berada jauh di bawah target yang ditetapkan pemerintah pusat.

Berdasarkan data Sistem Satu Sehat, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai 50.730.313 jiwa. Hingga 8 Desember 2025 pukul 08.42 WIB, warga yang telah mengikuti CKG tercatat sebanyak 9.095.740 orang atau sekitar 17,93 persen. Angka tersebut masih terpaut cukup jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025 yang menargetkan cakupan sebesar 36 persen.

Ketua Tim CKG Jawa Barat, Anita Nur Fadjar Asri, menjelaskan bahwa seluruh puskesmas di Jawa Barat sebenarnya sudah melaksanakan program CKG. Namun, tingkat partisipasi masyarakat berbeda-beda di setiap daerah.

“Capaian CKG belum merata. Ada daerah yang progresnya cukup baik, tapi ada juga yang masih sangat rendah,” ujar Anita, Selasa (16/12/2025).

Data menunjukkan, Kota Bogor mencatatkan capaian tertinggi dengan 48,66 persen, disusul Kabupaten Garut sebesar 40 persen, dan Kabupaten Ciamis 34,73 persen. Sementara itu, beberapa daerah masih tertinggal cukup jauh, seperti Kabupaten Sukabumi dengan 12,27 persen, Kabupaten Bandung Barat 10,75 persen, dan Kota Depok yang hanya mencapai 9,14 persen.

Untuk mengetahui penyebab rendahnya capaian tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat telah melakukan monitoring dan evaluasi di sejumlah daerah dengan capaian terendah pada Agustus 2025. Dari hasil evaluasi tersebut, ditemukan sejumlah kendala utama.

Anita memaparkan, akses masyarakat ke fasilitas kesehatan masih menjadi persoalan di beberapa wilayah. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan serta lamanya proses pengadaan alat kesehatan turut menghambat optimalisasi layanan CKG.

“Masih ada juga stigma di masyarakat bahwa CKG hanya diperuntukkan bagi warga yang sedang berulang tahun atau hanya bagi mereka yang datang ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Kendala teknis juga muncul dari sisi sistem. Aplikasi pendukung CKG dinilai belum sepenuhnya siap menampung data pemeriksaan dalam jumlah besar, sementara kapasitas server masih terbatas.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Tim CKG Jawa Barat menegaskan akan terus melakukan koordinasi rutin, baik secara internal maupun dengan pemerintah kabupaten dan kota. Upaya peningkatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan agar program CKG dapat dimanfaatkan lebih luas.

Sumber : kompascom
Editor : Tia
Share:

5 Fakta Kebakaran Hebat yang Melalap Ratusan Kios di Pasar Induk Kramat Jati

Babe News - Jakarta, Kebakaran besar terjadi di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Selasa pagi (16/12/2025). Api dengan cepat menyebar dan menghanguskan ratusan kios milik pedagang. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini meninggalkan kerugian besar dan duka bagi para pelaku usaha.

Berikut sejumlah fakta penting terkait kebakaran tersebut:

1. Sebanyak 350 Kios Ludes Terbakar

Api melahap sekitar 350 kios yang sebagian besar menjual buah dan makanan. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur memperkirakan nilai kerugian mencapai kurang lebih Rp10 miliar.

“Objek yang terbakar sekitar 350 kios. Kerugian ditaksir mencapai Rp10 miliar,” ujar Kasiops Sudin Gulkarmat Jakarta Timur, Abdul Wahid.

2. Tidak Ada Korban Jiwa

Pihak kepolisian memastikan tidak ada korban meninggal maupun luka dalam kejadian ini. Seluruh pedagang dan warga sekitar berhasil menyelamatkan diri.

“Korban jiwa nihil. Semua alhamdulillah selamat,” kata Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Alfian Nurrizal di lokasi kejadian.

Meski demikian, kerugian material yang dialami para pedagang cukup besar dan memukul perekonomian mereka.

3. Api Diduga Berasal dari Toko Plastik

Petugas pemadam mengungkapkan titik awal kebakaran diduga berasal dari sebuah toko plastik. Api dengan cepat membesar karena di lokasi tersebut terdapat tumpukan bahan mudah terbakar.

“Di dalamnya ada gudang karbit dan tumpukan kertas, sehingga api cepat menyebar,” jelas Kasudin Gulkarmat Jakarta Timur, Muchtar Zakaria.

Petugas harus membongkar area tersebut secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada api yang kembali menyala.

4. Kronologi Kejadian Sejak Pagi Hari

Berdasarkan keterangan saksi bernama Hedi, sekitar pukul 07.15 WIB ia merasakan hawa panas di sekitar kios. Tak lama kemudian, muncul percikan api dari bagian atas kios, yang kemudian membesar sekitar pukul 07.24 WIB.

Saksi langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran. Proses pemadaman dimulai sekitar pukul 07.29 WIB, sementara polisi masih mengumpulkan keterangan saksi lain dan menunggu hasil penyelidikan Puslabfor untuk memastikan penyebab pasti kebakaran.

5. Pedagang Kehilangan Seluruh Harta Dagangan

Kebakaran ini menyisakan kesedihan mendalam bagi para pedagang. Salah satunya Par (60), yang mengaku tidak sempat menyelamatkan apa pun selain dirinya.

“Api sudah besar, saya langsung lari. Semua barang habis, uang, dagangan, semua di laci terbakar,” tuturnya dengan pasrah.

Ia juga kehilangan uang tabungan sekitar Rp5 juta yang disimpan di kios, termasuk dana sosial yang biasa ia sisihkan untuk anak yatim.

Sumber : detikcom
Editor : Tia
Share:

Berita Populer