Banjir Terus Terulang, Warga Perumahan Subsidi di Bekasi Pilih Mengungsi dan Tinggalkan Rumah

Babe News - Bekasi, 27/01/2026. Banjir yang kembali merendam kawasan perumahan subsidi di Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, pada Senin (26/1/2026), membuat sebagian warga mengambil langkah berat. Tidak sedikit penghuni memilih meninggalkan rumah mereka demi keselamatan keluarga, terutama anak-anak.
Salah satu warga, Jeremia Tampubolon (27), mengaku memutuskan mengontrak rumah di luar kawasan perumahan untuk sementara waktu. Ia khawatir kondisi banjir yang terus berulang akan membahayakan keluarganya, terutama anaknya yang masih kecil.
“Pasti ada rasa khawatir, apalagi punya anak kecil. Jadi saya pilih ngontrak dulu, cari tempat yang lebih aman. Barang-barang penting juga saya bawa,” ujar Jeremia.
Menurutnya, warga sebenarnya sudah beberapa kali meminta pengembang perumahan untuk melakukan penanganan serius, seperti membangun turap dan mengatur ulang aliran sungai di sekitar kawasan. Namun, langkah-langkah tersebut dinilai belum efektif mengatasi banjir yang terus datang setiap musim hujan.
“Katanya sudah direlokasi dan dibikin tanggul, tapi kurang efektif. Posisi perumahan ini memang dekat sekali dengan sungai. Air juga masuk dari gerbang depan,” katanya.
Jeremia menjelaskan bahwa lokasi perumahan yang lebih rendah dibandingkan permukaan sungai menjadi faktor utama air mudah masuk ke permukiman setiap kali hujan deras. Ia juga mengaku kecewa karena sejak awal membeli rumah, pihak pemasaran menyebut kawasan tersebut aman dari banjir.
“Waktu beli, dibilang aman. Tahun pertama memang tidak banjir. Tapi masuk tahun kedua mulai banjir, dan sekarang makin parah,” ucapnya.
Atas kondisi tersebut, Jeremia berharap ada kebijakan khusus dari pengembang, seperti penangguhan cicilan rumah bagi warga yang terpaksa mengungsi. Ia menilai penangguhan cicilan seharusnya tidak menambah beban pembayaran di masa depan.
“Saya berharap ada penangguhan dua atau tiga bulan, tapi jangan ditambah ke cicilan tahun berikutnya. Karena ini kondisi darurat, bukan kemauan kita,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah rumah di Perumahan Nebraska Terrace ditinggalkan penghuninya. Beberapa warga terlihat membawa barang-barang penting sambil mengungsi ke tempat yang lebih aman. Di sekitar gerbang perumahan, terlihat tumpukan sampah seperti limbah rumah tangga, ranting pohon, kayu, dan plastik yang terbawa arus banjir, menimbulkan bau tidak sedap.
Hingga Senin sore, genangan air masih terlihat di beberapa titik dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter. Sebelumnya, kawasan ini juga sempat terendam banjir hingga hampir dua meter pada Jumat (23/1/2026).
Ketua RW 02, Doni, menjelaskan bahwa banjir dipicu oleh curah hujan tinggi yang diperparah kondisi tanggul yang bocor dan jebol, serta meningkatnya debit air Kali CBL. Selain itu, aliran air dari berbagai perumahan sekitar juga mengalir ke kawasan tersebut.
“Air meluap dari banyak perumahan dan Kali CBL juga naik. Waktu kemarin ketinggian hampir dua meter, sekarang sudah agak surut sekitar 30 sentimeter,” ujar Doni.
Ia menyebut sekitar 400 kepala keluarga (KK) terdampak banjir dan terpaksa mengungsi ke sejumlah tempat, seperti masjid, musala, lapangan PMI, dan pondok pesantren.
“Sekitar 400 KK mengungsi. Ada yang ke masjid, musala, lapangan PMI, sampai pondok pesantren,” katanya.
Doni berharap pihak pengembang segera bertanggung jawab dan melakukan penanganan banjir secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus terulang di masa depan.
“Kami ingin ada mitigasi yang serius dari developer supaya penanganan banjir lebih cepat dan tidak terus terulang,” ujarnya.

Sumber : Kompascom
Editor : Tia
Share:

Aksi Pemuda Bekasi dari Komunitas Generasi Burgeract Viral, Bersihkan Halte hingga Perbaiki Jalan Rusak di Malam Hari

Babe News - Bekasi, 27/01/2026. Sekelompok pemuda di Kota Bekasi menjadi perbincangan publik setelah aksi sosial mereka membersihkan halte bus dan memperbaiki jalan rusak tersebar luas di media sosial. Komunitas tersebut bernama Generasi Burgeract, yang beranggotakan lima anak muda dengan latar belakang berbeda, namun memiliki satu tujuan yang sama: peduli pada lingkungan dan fasilitas umum.
Kelima anggota komunitas ini adalah Geraldi Weimy (24), Jaka Prasetiyo (29), Syafi’i Maarif Al-Hafiz (27), Ilham Haristianto (26), dan Cornelia Agustine (28). Mereka membentuk komunitas ini karena merasa prihatin melihat kondisi halte bus dan jalanan yang rusak, namun kurang mendapat perhatian.
Menurut Geraldi Weimy, ide membentuk komunitas lahir dari kebiasaan mereka yang sering berkumpul dan berdiskusi soal masalah lingkungan di sekitar mereka. Dari diskusi tersebut, muncul keinginan untuk tidak hanya mengeluh, tetapi juga turun langsung melakukan aksi nyata.
“Timnya baru resmi dibentuk belakangan ini, tapi sebelumnya kami sudah sering bareng. Akhirnya sepakat bikin komunitas Generasi Burgeract supaya bisa bergerak bersama,” kata Geraldi saat ditemui di Bekasi, Senin (26/1/2026).
Nama Generasi Burgeract sendiri memiliki filosofi tersendiri. Geraldi menjelaskan bahwa konsep burger melambangkan berbagai lapisan masyarakat yang berbeda, namun harus bersatu. Roti melambangkan masyarakat, sayuran hijau menggambarkan lingkungan, warna merah putih melambangkan nasionalisme, dan warna keemasan melambangkan Garuda serta semangat persatuan.
“Intinya, meskipun kita berbeda-beda, kita harus tetap satu dan bergerak bersama,” ujarnya.
Aksi sosial mereka dilakukan secara sederhana, menggunakan alat-alat seadanya seperti sapu dan kain lap. Dalam beberapa unggahan di media sosial, terlihat para anggota membersihkan lantai halte, mengelap kaca, merapikan bangku, hingga membersihkan area tunggu penumpang yang kotor. Mereka juga menambal jalan rusak agar lebih aman dilalui pengguna jalan.
Menariknya, sebagian besar kegiatan dilakukan pada malam hari. Selain karena para anggota bekerja di siang hari, aktivitas malam juga dipilih untuk menghindari kemacetan dan aktivitas warga yang padat.
“Gerakan kecil memang tidak langsung berdampak besar, tapi harus dimulai dulu. Kalau terus dilakukan, lama-lama bisa jadi perubahan besar,” ujar Geraldi.
Anggota lainnya, Syafi’i Maarif Al-Hafiz, menambahkan bahwa halte bus merupakan ruang publik yang sering digunakan masyarakat setiap hari, sehingga kebersihannya sangat penting. Ia menilai masyarakat sering kali mengabaikan kondisi fasilitas umum, padahal hal tersebut mencerminkan wajah sebuah kota.
“Halte itu tempat orang lalu-lalang. Kalau kotor, itu juga mencerminkan bagaimana kita memperlakukan kota sendiri,” katanya.
Syafi’i juga menggambarkan filosofi Burgeract seperti lapisan burger tiga tingkat: masyarakat di lapisan atas yang kadang acuh, kelompok peduli seperti komunitas mereka di lapisan tengah, dan pemerintah di lapisan bawah yang belum sepenuhnya menjangkau semua persoalan. Menurutnya, kelompok peduli sering berada di posisi terjepit karena harus berjuang sendiri.
Meski baru memulai gerakan, komunitas Generasi Burgeract berharap aksi mereka bisa memicu kepedulian masyarakat luas dan mendorong pemerintah atau pihak terkait untuk lebih memperhatikan fasilitas umum.

Sumber : kompascom
Editor : Tia
Share:

Kabel Lampu Jalan di Koja Diduga Dicuri, Trotoar Rusak Parah hingga Ratusan Meter

Babe News - Jakarta, Aksi pencurian kabel penerangan jalan umum (PJU) diduga terjadi di kawasan Koja, Jakarta Utara. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah lampu jalan di Jalan Raya Cilincing tidak berfungsi dan trotoar rusak parah akibat dibongkar oleh pelaku.
Dugaan pencurian ini pertama kali mencuat melalui unggahan akun Instagram @tkp_jakarta. Dalam video yang beredar, terlihat konblok trotoar dibongkar dan berserakan sepanjang kurang lebih 200 meter, tepat di antara dua titik lampu jalan yang kini tidak menyala. Di bawah trotoar tersebut, kabel listrik yang seharusnya terpasang sudah tidak ditemukan, sehingga kuat dugaan kabel PJU dicuri.
Kondisi trotoar yang rusak ini juga mengganggu kenyamanan pejalan kaki dan berpotensi membahayakan pengguna jalan. Selain lampu jalan yang mati, permukaan trotoar yang tidak rata menimbulkan risiko kecelakaan bagi warga sekitar.
Menanggapi kejadian ini, Kanit Reskrim Polsek Koja AKP Fernando menyatakan pihak kepolisian telah menerima informasi terkait dugaan pencurian kabel tersebut dan saat ini sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut. Polisi juga telah melakukan pemantauan di lokasi untuk mengumpulkan bukti dan keterangan saksi.
“Informasi sudah kami terima dan saat ini masih dalam proses pendalaman serta penyelidikan,” ujar Fernando melalui keterangan tertulis pada Minggu (25/1/2026).
Fernando menambahkan, kasus serupa tidak hanya terjadi di satu lokasi. Berdasarkan data sementara, terdapat tiga titik dugaan pencurian kabel PJU di wilayah Jakarta Utara, yaitu satu titik di Koja dan dua titik lainnya di Cilincing. Untuk mengungkap pelaku, kepolisian akan berkoordinasi lintas wilayah hukum di Jakarta Utara.
“Kami bersama Polres Jakarta Utara terus mencari keterangan terkait dugaan pencurian kabel penerangan jalan ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kapolsek Koja Kompol Andry Suharto mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi dari warga terkait kejadian tersebut. Meski demikian, kepolisian tetap melakukan penyelidikan awal untuk mengidentifikasi pelaku.
“Memang belum ada laporan polisi, tetapi kami tetap melakukan penyelidikan lebih dulu,” kata Andry.

Sumber : Kompascom
Editor : Tia
Share:

Berita Populer