Babe News - Jawa Barat, 09/03/2026. Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyoroti persyaratan yang diterapkan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam program beasiswanya. Ia menilai bahwa syarat kemampuan bahasa Inggris yang terlalu tinggi, seperti skor TOEFL hingga 700 atau bahkan 800, berpotensi menyulitkan sebagian calon penerima beasiswa, terutama dari kalangan kurang mampu dan santri.
Hal tersebut disampaikan Bahlil saat menghadiri kegiatan di Pondok Pesantren Azzainiyyah di Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu malam (8/3/2026). Dalam kesempatan itu, ia menilai persyaratan bahasa Inggris yang terlalu tinggi justru lebih mudah dipenuhi oleh kalangan tertentu yang memiliki akses pendidikan dan fasilitas yang lebih baik.
Menurut Bahlil, kebijakan seperti itu berpotensi membuat kesempatan mendapatkan beasiswa menjadi tidak merata. Ia menyebut bahwa syarat TOEFL dengan skor tinggi cenderung lebih mudah dicapai oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.
Ia menegaskan bahwa negara seharusnya hadir untuk memberikan kesempatan yang lebih adil bagi seluruh anak bangsa, termasuk mereka yang berasal dari pesantren maupun keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Dalam pandangannya, beasiswa LPDP seharusnya juga memberikan ruang yang lebih besar bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia menilai selama ini perhatian terhadap kalangan santri masih belum maksimal dalam program tersebut.
Bahlil juga menilai bahwa kualitas seseorang tidak selalu ditentukan oleh latar belakang sekolah atau institusi tempat belajar. Menurutnya, kemampuan dan kualitas individu lebih banyak ditentukan oleh usaha serta potensi yang dimiliki oleh orang tersebut.
Ia bahkan menyampaikan keyakinannya bahwa para santri memiliki potensi dan kualitas yang tidak kalah, bahkan bisa saja lebih baik dibandingkan dengan siswa dari sekolah umum. Karena itu, ia mendorong agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar kepada mereka.
Lebih lanjut, Bahlil berharap agar kebijakan terkait program beasiswa dapat lebih inklusif dan mempertimbangkan kondisi serta latar belakang para calon penerima. Dengan begitu, peluang pendidikan yang lebih tinggi dapat diakses oleh semua kalangan secara lebih merata.
Ia juga menegaskan bahwa isu tersebut perlu terus disuarakan agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan ke depan.
Sumber : kompascom
Editor : Tia



