Tiga Pengedar Narkoba Ditangkap di Jaktim dan Tangsel, Polisi Sita Sabu hingga Tembakau Sintetis


Bekasi, 16 Juni 2026 - Polda Metro Jaya menangkap tiga pria yang diduga terlibat dalam peredaran narkotika di wilayah Tangerang Selatan dan Jakarta Timur. Ketiga pelaku berinisial IN (33), IB (30), dan A (20) diamankan oleh Direktorat Reserse Narkoba pada 5 Juni 2026.


Kasubdit 1 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya menyampaikan, penangkapan berawal dari informasi masyarakat terkait dugaan peredaran sabu di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Dari tangan pelaku IN, polisi menyita sabu seberat 20,92 gram, timbangan digital, serta perlengkapan pengemasan narkoba.


Hasil pemeriksaan telepon genggam pelaku mengungkap dugaan penggunaan metode “mapping” atau sistem tempel untuk menyimpan dan mendistribusikan barang di sejumlah titik di Tangerang Selatan.


Pada hari yang sama, polisi juga menangkap IB dan A di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Keduanya diduga memproduksi tembakau sintetis serta mengedarkan pil ekstasi dan obat keras tertentu.


Dari lokasi penggeledahan, petugas menyita empat botol cairan bibit tembakau sintetis, tiga paket tembakau sintetis siap edar, 30 butir pil ekstasi, serta lebih dari satu kilogram tembakau yang diduga akan digunakan sebagai bahan baku produksi.


Selain itu, polisi menemukan sejumlah peralatan yang diduga digunakan untuk proses produksi, seperti mixer, alat suntik, tabung ukur, timbangan digital, alkohol, dan bahan campuran lainnya.


Saat ini, ketiga tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Ditresnarkoba Polda Metro Jaya untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut.


Sumber: TribunJakarta.com

Editor: Rey

Share:

ART Diduga Kabur Bawa Emas dan Barang Berharga Majikan di Bekasi, Kerugian Capai Rp100 Juta


Bekasi, 16 Juni 2026 -  Seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial AD diduga membawa kabur sejumlah barang berharga milik majikannya di kawasan Masurraya Residence, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi. Akibat kejadian tersebut, korban berinisial D mengaku mengalami kerugian yang ditaksir melebihi Rp100 juta.


Peristiwa itu diketahui pada Sabtu (13/6/2026) saat rumah dalam keadaan kosong karena ditinggal penghuni. Saat kembali ke rumah, korban mendapati ART yang bekerja di kediamannya sudah tidak berada di lokasi dan tidak dapat dihubungi.


Korban mengaku mulai curiga setelah mengetahui sejumlah barang berharga milik keluarga juga hilang. Barang yang dilaporkan raib antara lain perhiasan, emas, serta sebuah koper milik keluarga.


Menurut keterangan korban, terduga pelaku diduga meninggalkan rumah sambil membawa koper milik majikannya ketika penghuni rumah sedang tidak berada di tempat.


Merasa dirugikan, korban kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polres Metro Bekasi Kota. Laporan telah diterima dan saat ini kasusnya tengah dalam penanganan penyidik untuk proses penyelidikan lebih lanjut.


Hingga kini, keberadaan AD masih belum diketahui dan korban mengaku belum menerima kabar apa pun dari yang bersangkutan sejak peristiwa tersebut terjadi.


Sumber: TribunBekasi.com

Editor: Rey

Share:

Tapa Bisu Malam Satu Suro, Tradisi Hening Sarat Makna di Yogyakarta


 Bekasi, 16 Juni 2026 - Yogyakarta memiliki tradisi unik dalam menyambut Tahun Baru Jawa, yakni Tapa Bisu pada Malam Satu Suro. Berbeda dengan perayaan tahun baru yang identik dengan keramaian, tradisi ini dijalankan dalam suasana hening sebagai bentuk refleksi diri dan pendekatan spiritual kepada Tuhan.


Tapa Bisu merupakan laku berdiam diri tanpa berbicara yang mengajarkan pengendalian diri, ketenangan batin, dan introspeksi. Tradisi ini menjadi bagian penting dari ritual Mubeng Beteng, yaitu berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Sebelum prosesi dimulai, peserta biasanya mengikuti lantunan tembang macapat yang berisi doa, nasihat, dan pesan moral. Tembang tersebut menjadi persiapan batin sebelum memasuki ritual keheningan.


Dalam prosesi Mubeng Beteng, peserta berjalan dengan khidmat sambil merenungkan perjalanan hidup selama setahun terakhir. Momen ini dimanfaatkan untuk berdoa, memohon ampunan, serta menyusun harapan dan niat baik untuk tahun yang akan datang.


Meski diikuti ribuan orang, suasana tetap tenang dan penuh kekhusyukan. Tradisi yang terus dilestarikan ini menjadi simbol kearifan budaya Jawa yang menempatkan keheningan sebagai sarana refleksi dan pendewasaan diri.


Editor: Rey

Sumber:  Kompas.com⁠

Share:

Berita Populer