Atasi Banjir Bogor–Bekasi, Pemerintah Siapkan Pembangunan 8 Kolam Retensi

Babe News - Jawa Barat, 21/02/2026. Upaya pengendalian banjir di wilayah aliran Sungai Cileungsi dan Cikeas, Jawa Barat, terus diperkuat. Dua sungai tersebut selama ini kerap meluap dan berdampak pada sejumlah kawasan di Bogor hingga Bekasi saat curah hujan tinggi.
Ketua KP2C (Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas), Puarman, mengungkapkan bahwa selain normalisasi sungai, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum juga merencanakan pembangunan delapan kolam retensi. Infrastruktur ini disiapkan untuk menahan dan menampung air saat debit sungai meningkat drastis.
Menurut Puarman, total kapasitas tampungan dari delapan kolam retensi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 6,3 juta meter kubik air. Ia menilai, keberadaan kolam retensi sangat penting sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir berulang.
Empat Lokasi Dinilai Paling Strategis
Dari delapan kolam yang direncanakan, terdapat empat lokasi yang dianggap paling efektif dalam membantu pengendalian banjir.
Dua di antaranya berada di Kabupaten Bogor, tepatnya di Tlajung Uduk 1 dan Tlajung Uduk 2. Kedua kolam ini diproyeksikan mampu menampung sekitar 2,6 juta meter kubik air.
Sementara itu, di Kota Bekasi, kolam retensi akan dibangun di Kecamatan Bantar Gebang dengan kapasitas sekitar 1 juta meter kubik. Selain itu, kawasan Kemang Pratama di Kecamatan Rawa Lumbu juga masuk dalam rencana pembangunan, dengan kapasitas tampung mencapai 2 juta meter kubik.
Puarman menyebut, kombinasi kolam retensi tersebut diharapkan mampu “memarkir” air saat debit Sungai Cileungsi dan Cikeas meningkat, sehingga limpasan ke permukiman warga bisa ditekan secara signifikan.
Dorongan Percepatan Pembangunan
Puarman juga mendorong agar proses pembangunan tidak berlarut-larut. Ia menilai percepatan realisasi proyek ini sangat penting, mengingat wilayah Bogor dan Bekasi kerap terdampak banjir saat intensitas hujan tinggi.
Ia mencontohkan kejadian pada 11 Februari 2026 lalu, ketika kenaikan tinggi muka air (TMA) Sungai Cileungsi sempat mengancam sejumlah kawasan. Dari pengalaman tersebut, ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah lebih cepat agar dampak banjir ke depan dapat diminimalkan.
Kolam retensi di Bantar Gebang serta konsep long storage di Kemang Pratama disebut menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian banjir di Kota Bekasi.

Sumber : detikcom
Editor : Tia
Share:

Belum Surut, 19.408 KK di Kabupaten Bekasi Jalani Puasa di Tengah Banjir

Babe News - Bekasi, 21/02/2026. Ribuan warga di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, harus menjalani ibadah puasa di tengah kepungan banjir. Hingga Jumat (20/2/2026) malam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 19.408 kepala keluarga (KK) terdampak genangan air yang belum juga surut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, menjelaskan jumlah warga terdampak terus bertambah sejak siang hari. Awalnya tercatat sekitar 17 ribu KK, namun pada malam hari banjir meluas dan angka tersebut meningkat menjadi lebih dari 19 ribu KK.
“Tim masih melakukan pendataan lanjutan. Evakuasi dan distribusi bantuan logistik sudah berjalan di sejumlah titik,” ujar Muchlis di Cikarang.
Banjir Meluas di 75 Titik
BPBD mencatat genangan terjadi di 75 titik yang tersebar di berbagai kecamatan dan desa. Dari total 19.408 KK terdampak, sebanyak 94 KK atau 376 jiwa terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam cukup tinggi dan akses lingkungan terputus.
Kecamatan Babelan menjadi salah satu wilayah yang cukup parah terdampak. Di sana, air dengan ketinggian 20 hingga 40 sentimeter merendam Desa Hurip Jaya, Babelan Kota, Muarabakti, Kedung Pengawas, serta Buni Bakti. Di Kelurahan Kebalen, dilaporkan terjadi longsor di dua titik permukiman warga.
Kondisi lebih berat terjadi di Kecamatan Tambun Utara. Di wilayah ini, genangan mencapai 30 hingga 100 sentimeter dan merendam Desa Satriajaya, Satria Mekar, Srijaya, Srimukti, dan Sriamur. Selain banjir, angin puting beliung juga dilaporkan menerjang Desa Srimukti, sementara longsor terjadi di Desa Karangsatria.
Cikarang Utara Paling Parah
Banjir dengan ketinggian air antara 50 hingga 170 sentimeter tercatat di Kecamatan Cikarang Utara, menjadikannya salah satu wilayah terdampak paling serius. Desa Tanjungsari dan Karangraharja mengalami genangan cukup tinggi hingga memutus akses jalan lingkungan. Warga pun terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Di Kecamatan Cabangbungin, genangan 20 hingga 40 sentimeter merendam Desa Jayalaksana. Sementara itu, Desa Setialaksana dilaporkan terdampak angin puting beliung.
Banjir juga meluas ke Kecamatan Cibitung, tepatnya di Kelurahan Wanasari serta Desa Wanajaya dan Sarimukti. Di wilayah pesisir Kecamatan Muaragembong, genangan terjadi di Desa Pantai Harapan Jaya dan Bojongsari.
Wilayah selatan pun tak luput dari dampak. Desa Sukamekar terendam dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 100 sentimeter. Longsor juga dilaporkan terjadi di sejumlah desa, seperti Sukabungah, Sukamukti, Sukaragam, dan Jayasampurna. Meski demikian, hingga kini belum ada laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Pengungsian dan Lahan Pertanian Terdampak
Hingga Jumat malam, terdapat tiga titik pengungsian yang telah disiapkan, yakni di Kantor Kecamatan Tambun Utara serta dua lokasi di Desa Karangraharja. Total pengungsi tercatat 376 jiwa.
Tak hanya permukiman warga, banjir juga berdampak pada sektor pertanian. Sekitar 1.026 hektare lahan pertanian dilaporkan terendam, yang berpotensi mengganggu produksi pangan lokal.
BPBD Kabupaten Bekasi bersama BPBD Provinsi Jawa Barat, TNI-Polri, Tagana, PMI, relawan kebencanaan, BBWS, serta PJT II terus melakukan pendataan, evakuasi, pendirian tenda pengungsian, hingga penyaluran bantuan logistik.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menyebut pihaknya masih melakukan asesmen cepat karena potensi genangan bisa saja bertambah. Debit air di beberapa titik masih fluktuatif, terutama di wilayah yang berdekatan dengan aliran sungai dan tanggul.
Petugas disiagakan selama 24 jam untuk memantau perkembangan situasi. Distribusi bantuan difokuskan pada kebutuhan pokok, termasuk makanan siap saji untuk sahur dan berbuka, air bersih, selimut, serta perlengkapan bagi bayi dan lansia.
Selama Ramadan, dapur umum telah diaktifkan di lokasi pengungsian. Koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan agar pasokan logistik tetap terjaga.

Sumber : detikcom
Editor : Tia
Share:

Belum Surut, 19.408 KK di Kabupaten Bekasi Jalani Puasa di Tengah Banjir

Babe News - Bekasi, 21/02/2026. Ribuan warga di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, harus menjalani ibadah puasa di tengah kepungan banjir. Hingga Jumat (20/2/2026) malam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 19.408 kepala keluarga (KK) terdampak genangan air yang belum juga surut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, menjelaskan jumlah warga terdampak terus bertambah sejak siang hari. Awalnya tercatat sekitar 17 ribu KK, namun pada malam hari banjir meluas dan angka tersebut meningkat menjadi lebih dari 19 ribu KK.
“Tim masih melakukan pendataan lanjutan. Evakuasi dan distribusi bantuan logistik sudah berjalan di sejumlah titik,” ujar Muchlis di Cikarang.
Banjir Meluas di 75 Titik
BPBD mencatat genangan terjadi di 75 titik yang tersebar di berbagai kecamatan dan desa. Dari total 19.408 KK terdampak, sebanyak 94 KK atau 376 jiwa terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam cukup tinggi dan akses lingkungan terputus.
Kecamatan Babelan menjadi salah satu wilayah yang cukup parah terdampak. Di sana, air dengan ketinggian 20 hingga 40 sentimeter merendam Desa Hurip Jaya, Babelan Kota, Muarabakti, Kedung Pengawas, serta Buni Bakti. Di Kelurahan Kebalen, dilaporkan terjadi longsor di dua titik permukiman warga.
Kondisi lebih berat terjadi di Kecamatan Tambun Utara. Di wilayah ini, genangan mencapai 30 hingga 100 sentimeter dan merendam Desa Satriajaya, Satria Mekar, Srijaya, Srimukti, dan Sriamur. Selain banjir, angin puting beliung juga dilaporkan menerjang Desa Srimukti, sementara longsor terjadi di Desa Karangsatria.
Cikarang Utara Paling Parah
Banjir dengan ketinggian air antara 50 hingga 170 sentimeter tercatat di Kecamatan Cikarang Utara, menjadikannya salah satu wilayah terdampak paling serius. Desa Tanjungsari dan Karangraharja mengalami genangan cukup tinggi hingga memutus akses jalan lingkungan. Warga pun terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Di Kecamatan Cabangbungin, genangan 20 hingga 40 sentimeter merendam Desa Jayalaksana. Sementara itu, Desa Setialaksana dilaporkan terdampak angin puting beliung.
Banjir juga meluas ke Kecamatan Cibitung, tepatnya di Kelurahan Wanasari serta Desa Wanajaya dan Sarimukti. Di wilayah pesisir Kecamatan Muaragembong, genangan terjadi di Desa Pantai Harapan Jaya dan Bojongsari.
Wilayah selatan pun tak luput dari dampak. Desa Sukamekar terendam dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 100 sentimeter. Longsor juga dilaporkan terjadi di sejumlah desa, seperti Sukabungah, Sukamukti, Sukaragam, dan Jayasampurna. Meski demikian, hingga kini belum ada laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Pengungsian dan Lahan Pertanian Terdampak
Hingga Jumat malam, terdapat tiga titik pengungsian yang telah disiapkan, yakni di Kantor Kecamatan Tambun Utara serta dua lokasi di Desa Karangraharja. Total pengungsi tercatat 376 jiwa.
Tak hanya permukiman warga, banjir juga berdampak pada sektor pertanian. Sekitar 1.026 hektare lahan pertanian dilaporkan terendam, yang berpotensi mengganggu produksi pangan lokal.
BPBD Kabupaten Bekasi bersama BPBD Provinsi Jawa Barat, TNI-Polri, Tagana, PMI, relawan kebencanaan, BBWS, serta PJT II terus melakukan pendataan, evakuasi, pendirian tenda pengungsian, hingga penyaluran bantuan logistik.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menyebut pihaknya masih melakukan asesmen cepat karena potensi genangan bisa saja bertambah. Debit air di beberapa titik masih fluktuatif, terutama di wilayah yang berdekatan dengan aliran sungai dan tanggul.
Petugas disiagakan selama 24 jam untuk memantau perkembangan situasi. Distribusi bantuan difokuskan pada kebutuhan pokok, termasuk makanan siap saji untuk sahur dan berbuka, air bersih, selimut, serta perlengkapan bagi bayi dan lansia.
Selama Ramadan, dapur umum telah diaktifkan di lokasi pengungsian. Koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan agar pasokan logistik tetap terjaga.

Sumber : detikcom
Editor : Tia
Share:

Berita Populer