Kepala Dishub Kota Bekasi, Zeno Bachtiar, menyampaikan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pengembangan angkot agar tetap bisa berjalan seiring hadirnya moda transportasi baru.
Menurutnya, langkah pengembangan itu dapat dilakukan melalui peremajaan armada hingga penataan ulang rute atau re-routing.
“Pengembangan angkot tentu memungkinkan. Bisa melalui peremajaan kendaraan, lalu juga dilakukan penataan ulang trayek,” kata Zeno saat dikonfirmasi pada Minggu (15/2/2026).
Trayek Bisa Dipendekkan, Diperpanjang, Sampai Dihapus
Zeno menjelaskan bahwa penataan ulang trayek bukan hanya sekadar mengganti jalur, namun dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Dishub bisa saja memperpendek rute tertentu, memperpanjang jalur ke wilayah baru, menggabungkan trayek yang dinilai tumpang tindih, hingga menghilangkan trayek yang sudah tidak efektif.
Langkah tersebut dinilai realistis karena perkembangan Kota Bekasi saat ini sangat cepat. Banyak kawasan baru yang tumbuh menjadi pusat aktivitas masyarakat, baik dari segi pemukiman maupun ekonomi.
“Bekasi berkembang pesat. Ada banyak titik baru yang kini menjadi pusat kegiatan ekonomi, sehingga sangat terbuka kemungkinan daerah-daerah itu bisa dilayani kembali oleh angkutan kota,” jelasnya.
Angkot Berpeluang Jadi Feeder Transportasi Massal
Selain penataan rute, Dishub juga membuka peluang agar angkot bisa mengambil peran baru sebagai transportasi pengumpan (feeder) yang terintegrasi dengan transportasi massal seperti LRT dan moda lainnya.
Menurut Zeno, keberadaan angkot tetap penting untuk menjangkau wilayah-wilayah yang belum terlayani bus besar atau transportasi modern.
“Sangat memungkinkan angkot difungsikan sebagai feeder, termasuk untuk mendukung akses masyarakat menuju transportasi massal seperti LRT dan lainnya,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, Pemkot Bekasi diharapkan dapat membangun sistem transportasi yang lebih teratur dan saling terhubung, tanpa menghilangkan peran angkot sebagai moda transportasi masyarakat.
Sopir Angkot Minta Pemerintah Merangkul
Di sisi lain, para sopir angkot berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pengembangan Trans Beken, tetapi juga ikut memperhatikan keberlangsungan angkot yang sudah lama menjadi transportasi warga Bekasi.
Salah satu sopir angkot, Eri (45), menyampaikan bahwa para pengemudi ingin dirangkul dan dibantu agar bisa beradaptasi dengan sistem transportasi baru.
“Kalau bisa kami para sopir angkot ini dirangkul. Kalau perlu ada subsidi supaya transportasi umum yang layak tetap hidup,” ujar Eri.
Menurutnya, angkot adalah bagian dari transportasi perkotaan yang sudah ada sejak lama dan seharusnya tidak ditinggalkan begitu saja. Ia bahkan mengaku mendukung jika pemerintah mau membina dan meningkatkan kualitas angkot.
“Harusnya dibina biar lebih kreatif. Saya sangat mendukung kalau pemkot mau meningkatkan angkot,” katanya.
Aksi Demonstrasi Sopir Angkot Masih Jadi Sorotan
Sebelumnya, ratusan sopir angkot di Kota Bekasi melakukan aksi demonstrasi dengan memblokade Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Bekasi Selatan, pada Selasa (10/2/2026) dan kembali terjadi pada Kamis (12/2/2026).
Aksi tersebut dipicu oleh kebijakan tarif gratis Trans Beken pada masa awal operasional, serta rencana jalur baru yang dinilai akan mengganggu trayek angkot yang sudah ada.
Para sopir menilai kebijakan itu dapat mengancam pendapatan dan keberlangsungan pekerjaan mereka.
Wakil Ketua Organda Kota Bekasi, Rm Purwadi, mengatakan bahwa salah satu masalah utama adalah kurangnya sosialisasi kepada pihak angkot yang terdampak.
“Penyebabnya karena ada jalur baru, tetapi belum ada sosialisasi ke trayek yang terdampak sehingga teman-teman angkot merasa keberatan,” ujarnya.
Sumber : kompascom
Editor : Tia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar