Tradisi ini sudah berlangsung sejak era 1990-an dan terus dilestarikan hingga kini. Usai pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah, warga dari berbagai kalangan langsung berkumpul di jalan utama perumahan. Mulai dari anak-anak hingga lansia ikut ambil bagian dalam barisan panjang yang membentuk lingkaran, menciptakan suasana hangat penuh keakraban.
Barisan tersebut kemudian bergerak perlahan, di mana setiap warga saling bersalaman satu per satu. Momen ini tidak hanya dipenuhi dengan saling memaafkan, tetapi juga diwarnai tawa, haru, dan kebersamaan yang terasa begitu kuat di pagi hari Lebaran.
Salah satu warga, Irwan, menyebut tradisi ini menjadi solusi praktis di tengah kesibukan masyarakat perkotaan. Menurutnya, dengan cara ini warga tidak perlu lagi berkeliling dari rumah ke rumah untuk bersilaturahmi. Cukup dengan satu kali mengikuti barisan, semua tetangga bisa saling bermaafan dalam waktu singkat.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Hal ini menambah makna spiritual dalam perayaan Lebaran, tidak hanya sekadar tradisi sosial.
Di tengah kehidupan kota yang cenderung individualistis, tradisi “ular tangga” ini menjadi simbol kuatnya kebersamaan dan kerukunan warga. Duta Kranji menunjukkan bahwa nilai kekeluargaan tetap bisa dijaga, bahkan di lingkungan urban yang padat aktivitas.
Sumber : bekasi terkini
Editor : Tia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar