Beberapa jenis BBM mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan. Pertamax Turbo kini dijual sekitar Rp19.400 per liter, naik jauh dari sebelumnya Rp13.100. Sementara itu, Dexlite mengalami kenaikan yang lebih tinggi hingga mencapai Rp23.600 per liter dari harga sebelumnya Rp14.200. Hal serupa juga terjadi pada Pertamina Dex yang kini berada di angka Rp23.900 per liter. Di sisi lain, harga Pertamax dan Pertamax Green 95 masih tetap stabil dan tidak mengalami perubahan.
Minimnya sosialisasi terkait kebijakan ini menjadi sorotan utama. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDIP, Mufti Anam, menilai kenaikan tersebut cukup memberatkan masyarakat, terutama karena dilakukan tanpa persiapan dan komunikasi yang jelas. Ia juga menyinggung bahwa sebelumnya publik sempat mendapat kesan bahwa harga BBM akan tetap stabil.
Menurutnya, kondisi ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan karena adanya perbedaan antara pernyataan sebelumnya dengan kebijakan yang akhirnya diambil. Ia menyebut kebijakan ini sebagai langkah yang kurang tepat di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.
Sementara itu, anggota Komisi VI DPR lainnya, Rivqy Abdul Halim, mengingatkan agar kenaikan harga BBM non-subsidi tidak berdampak pada naiknya harga kebutuhan pokok. Ia menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Meski demikian, Rivqy juga memahami bahwa keputusan menaikkan harga BBM bukan hal yang mudah, mengingat adanya tekanan global terhadap sektor energi. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tetap perlu menyampaikan informasi secara terbuka agar masyarakat memahami alasan di balik kebijakan tersebut.
Menurutnya, transparansi mengenai kondisi energi nasional, termasuk beban subsidi dan distribusi, sangat penting untuk menghindari keresahan di tengah masyarakat.
Sumber : kompascom
Editor : Tia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar