Tapa Bisu Malam Satu Suro, Tradisi Hening Sarat Makna di Yogyakarta


 Bekasi, 16 Juni 2026 - Yogyakarta memiliki tradisi unik dalam menyambut Tahun Baru Jawa, yakni Tapa Bisu pada Malam Satu Suro. Berbeda dengan perayaan tahun baru yang identik dengan keramaian, tradisi ini dijalankan dalam suasana hening sebagai bentuk refleksi diri dan pendekatan spiritual kepada Tuhan.


Tapa Bisu merupakan laku berdiam diri tanpa berbicara yang mengajarkan pengendalian diri, ketenangan batin, dan introspeksi. Tradisi ini menjadi bagian penting dari ritual Mubeng Beteng, yaitu berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Sebelum prosesi dimulai, peserta biasanya mengikuti lantunan tembang macapat yang berisi doa, nasihat, dan pesan moral. Tembang tersebut menjadi persiapan batin sebelum memasuki ritual keheningan.


Dalam prosesi Mubeng Beteng, peserta berjalan dengan khidmat sambil merenungkan perjalanan hidup selama setahun terakhir. Momen ini dimanfaatkan untuk berdoa, memohon ampunan, serta menyusun harapan dan niat baik untuk tahun yang akan datang.


Meski diikuti ribuan orang, suasana tetap tenang dan penuh kekhusyukan. Tradisi yang terus dilestarikan ini menjadi simbol kearifan budaya Jawa yang menempatkan keheningan sebagai sarana refleksi dan pendewasaan diri.


Editor: Rey

Sumber:  Kompas.com⁠

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Populer