Kelangkaan BBM di SPBU Swasta, DPR Siap Usut Penyebabnya

Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta. Kondisi ini menimbulkan antrean panjang dan keresahan di beberapa daerah. Melihat situasi tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Sugeng Suparwoto, menegaskan pihaknya akan turun tangan untuk menelusuri dan memastikan penyebab utama terjadinya kelangkaan BBM ini. Menurutnya, sebagai lembaga pengawas, DPR perlu mengetahui akar persoalan agar masalah serupa tidak berlarut-larut dan merugikan masyarakat.

Sementara itu, sebelumnya Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, telah memberikan penjelasan berbeda. Ia menegaskan bahwa secara resmi pemerintah tidak mencatat adanya kelangkaan BBM di SPBU swasta. Bahlil menyebut pemerintah bahkan sudah mengantisipasi kebutuhan pasokan dengan memberikan tambahan kuota impor BBM hingga 10% kepada pihak swasta. Tambahan ini diharapkan cukup untuk menjamin stok di lapangan sehingga pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan lancar.

Pernyataan yang saling berbeda ini membuat persoalan kelangkaan BBM di SPBU swasta menjadi perhatian publik. DPR, melalui Sugeng Suparwoto, berkomitmen melakukan penelusuran lebih lanjut dengan memanggil pihak terkait untuk mendapatkan penjelasan rinci. Harapannya, kelangkaan BBM yang dikeluhkan masyarakat bisa segera diatasi dan distribusi energi nasional kembali normal.

Sumber : 20detik.com
Editor : Tia
Share:

Eliano Reijnders Ketahuan Bonceng Tiga Bareng Rekan Persib, Aksi lucunya Jadi Sorotan

Baru beberapa pekan berseragam Persib Bandung, Eliano Reijnders sudah menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan gaya hidup masyarakat lokal. Bukan hanya di lapangan hijau, pemain keturunan Indonesia-Belanda ini tampak santai menikmati keseharian khas warga Bandung. Momen terbaru yang ramai diperbincangkan adalah ketika ia terekam kamera menaiki motor dengan cara bonceng tiga bersama dua rekan setimnya.

Video yang pertama kali diunggah akun Instagram Bobotoh Ciamis itu menampilkan Eliano duduk di bagian belakang motor matic mungil Honda Scoopy 110. Posisi pengendara diisi Adam Alis, sementara di tengahnya duduk Sadil Ramdani. Ketiganya terlihat santai, kompak, dan tertawa-tawa selama perjalanan.

Dalam rekaman itu mereka melaju di area lingkar dalam kompleks Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Jawa Barat. Ketiganya tampak mengenakan perlengkapan latihan berupa kaos olahraga, sepatu sepak bola, dan kaos kaki panjang tanpa mengenakan helm pengaman. Sambil melambaikan tangan ke kamera, aksi mereka seolah menunjukkan suasana persaudaraan dan keakraban dalam tim.

Banyak yang menduga mereka sedang menuju lapangan latihan Persib yang memang terletak tak jauh dari stadion. Ada pula video lain yang memperlihatkan mereka tiba di lokasi latihan bersamaan dengan beberapa pemain lainnya.

Walau terlihat lucu dan menghibur, sejumlah warganet mengingatkan agar para pemain menjaga keselamatan. Mereka menilai sebaiknya para atlet profesional tetap memprioritaskan keamanan, terlebih karena status mereka sebagai aset penting tim. Bonceng tiga dan tanpa helm tetaplah berisiko meski jaraknya dekat dan berada di kawasan tertutup.

Unggahan tersebut langsung menuai perhatian. Hingga berita ini ditulis, video itu sudah diputar lebih dari 167 ribu kali dan mendapat ratusan komentar. Sebagian besar warganet menertawakan aksi Eliano yang dianggap “cepat melokal” setelah bergabung dengan Persib. Tak sedikit pula yang menyebut momen ini sebagai bukti kekompakan dan kehangatan di dalam skuad Maung Bandung.

Sumber : detik.com
Editor : Tia
Share:

Bertengkar karena Pilih Nama Anak, Suami Istri di China Putuskan Bercerai

Anak di Shanghai Tak Punya Akta Lahir Setahun Lebih Gara-gara Orang Tua Bertikai Soal Nama

Sebuah kasus unik tengah menyita perhatian publik di Shanghai, Tiongkok. Seorang bayi laki-laki yang telah berusia lebih dari satu tahun belum memiliki akta kelahiran maupun jadwal vaksinasi hanya karena kedua orang tuanya berselisih paham soal nama yang akan diberikan kepadanya.

Perkara ini mengemuka setelah Pengadilan Rakyat Pudong New Area menangani gugatan cerai pasangan tersebut. Mereka menikah pada 2023 dan dikaruniai seorang anak pada tahun berikutnya. Namun kebahagiaan itu berubah jadi pertikaian berkepanjangan lantaran masalah penentuan nama sang buah hati.

Berdasarkan dokumen persidangan, baik ayah maupun ibu sama-sama ngotot memakai nama pilihannya masing-masing. Mereka juga saling menahan dokumen asli dan surat kuasa sehingga proses administrasi terhambat. Bahkan, keduanya pernah datang ke rumah sakit secara terpisah untuk mendaftarkan nama versi masing-masing, tetapi ditolak karena melanggar ketentuan pendaftaran.

Akibatnya, hingga kini bayi tersebut tidak memiliki akta kelahiran, tidak bisa dimasukkan ke dalam sistem administrasi keluarga, dan kesulitan mendapatkan layanan dasar seperti imunisasi. Hakim yang memimpin sidang menegaskan bahwa akta kelahiran adalah dokumen penting untuk menjamin identitas hukum dan hak-hak anak sejak lahir.


Pengadilan juga mengingatkan bahwa menunda pengurusan identitas anak demi konflik pribadi merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak anak. Hakim menilai kedua orang tua harus bertanggung jawab dan tidak menjadikan sang anak sebagai “sandera” dalam masalah rumah tangga.

Sebagai langkah perlindungan, majelis hakim menerbitkan “Pemberitahuan Perhatian bagi Anak di Bawah Umur”, yang mewajibkan kedua orang tua bekerja sama mengurus akta kelahiran dalam batas waktu yang telah ditetapkan. Namun, keduanya kembali berselisih mengenai siapa yang berhak menyimpan dokumen asli.

Karena proses mediasi yang dilakukan berulang kali tak juga membuahkan hasil, pengadilan akhirnya memutuskan untuk menahan dokumen asli akta kelahiran sementara waktu, sebelum menyerahkannya kepada ibu sang anak agar proses administrasi kependudukan dapat segera diselesaikan.

Kasus perceraian dengan alasan sepele ini sontak viral di media sosial Tiongkok. Banyak warganet menyayangkan sikap orang tua yang lebih mementingkan ego ketimbang kepentingan anak. “Bagaimana bisa masalah nama menghancurkan rumah tangga?” tulis seorang pengguna.

Warganet lain berkomentar, “Nama bisa diubah, tetapi hak anak tidak boleh dihambat. Mereka seperti ini bukan orang tua yang bertanggung jawab." 
Sumber : liputan6.com
Editor by : Tia

Share:

Berita Populer