Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden ini menyebabkan kepanikan luar biasa di antara para santri. Sebanyak 79 santri berhasil dievakuasi dengan selamat, namun puluhan lainnya mengalami luka-luka, dan satu korban dinyatakan meninggal dunia.
Kejadian bermula sekitar pukul 15.30 WIB ketika shalat Ashar baru berlangsung beberapa menit. Tiba-tiba, atap mushala mulai retak dan roboh, disusul dengan runtuhnya sebagian besar bangunan. Para santri yang berada di dalam mushala berusaha menyelamatkan diri, sementara sejumlah lainnya tertimpa reruntuhan.
Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan segera diterjunkan ke lokasi. Evakuasi dilakukan dengan menggunakan alat manual karena sebagian puing menimpa korban. Ambulans juga disiagakan untuk membawa para santri yang terluka ke rumah sakit terdekat.
Plt Kepala BPBD Sidoarjo menyampaikan bahwa penyebab ambruknya mushala masih dalam penyelidikan. Dugaan sementara, bangunan mengalami kerusakan struktural yang tidak terdeteksi sebelumnya. “Saat ini tim teknis sedang memeriksa konstruksi bangunan untuk mengetahui penyebab pastinya,” ujarnya.
Sementara itu, pihak pengelola Ponpes Al Khoziny menyampaikan rasa duka cita mendalam atas meninggalnya seorang santri dan memastikan seluruh korban yang luka mendapatkan perawatan intensif. Pengurus pesantren juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk penanganan lanjutan.
Hingga malam hari, petugas masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal di lokasi. Area mushala pun dipasangi garis pengaman untuk mencegah santri atau warga sekitar mendekat.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap kondisi bangunan fasilitas pendidikan, terutama di lingkungan pondok pesantren yang sehari-hari digunakan ratusan santri.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar