Pantauan di lapangan pada Minggu (11/1/2026) menunjukkan, jalan tersebut berada di kawasan hunian sementara (huntara) korban banjir bandang tahun 2020, tepatnya di Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten. Jalan ini menjadi akses penghubung antara Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan Kabupaten Lebak, Banten.
Perbedaan kondisi jalan terlihat jelas. Ruas jalan yang masuk wilayah Jawa Barat sudah dilapisi aspal hitam dan bahkan dilengkapi marka jalan berwarna putih. Sementara itu, begitu memasuki wilayah Banten, jalan berubah menjadi tanah merah yang licin saat hujan dan berdebu saat cuaca kering.
Salah seorang warga huntara, Erum, mengungkapkan bahwa pengaspalan di wilayah Jawa Barat baru dilakukan sekitar sepekan lalu oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menurutnya, batas akhir pengaspalan tepat berada di depan hunian sementaranya.
“Ujung aspalnya pas di sini. Kalau ke arah Bogor jalannya sudah mulus, tapi ke arah Lebak masih tanah,” ujar Erum saat ditemui di Huntara Cigobang.
Ia menjelaskan, pengaspalan dilakukan mulai dari Kampung Cileuksa, yang merupakan kampung terakhir di wilayah Bogor sebelum perbatasan, hingga ke titik perbatasan dengan Lebak. Namun, jalan di wilayah Lebak belum tersentuh pembangunan sejak warga menempati huntara pada 2020.
“Padahal jalan ini penting sekali. Warga lewat sini untuk aktivitas sehari-hari, anak-anak juga lewat untuk sekolah. Tapi sampai sekarang belum pernah ada pembangunan,” keluhnya.
Hal senada disampaikan Ketua RT setempat, Ajum. Ia mengaku sudah berkali-kali mengajukan permohonan pembangunan jalan maupun hunian tetap (huntap) untuk warga korban banjir bandang. Namun, hingga kini permintaan tersebut belum juga terealisasi.
“Setiap ada pejabat datang, baik gubernur, bupati, atau wakil bupati, kami selalu sampaikan harapan soal huntap atau setidaknya jalan dibangun. Tapi sejauh ini baru sebatas janji,” kata Ajum.
Ia bahkan membandingkan kondisi warganya dengan warga di wilayah Bogor yang menurutnya lebih cepat mendapatkan perhatian pemerintah. “Di sana huntap dibangun kurang dari setahun, sementara kami di sini sudah enam tahun masih tinggal di huntara,” ujarnya.
Sumber : kompascom
Editor : Tia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar