Salah satu warga bernama Banu (46) menceritakan bahwa sebelum longsor terjadi, ia sempat menerima informasi mengenai potensi banjir kiriman dari wilayah Bogor. Informasi itu ia ketahui setelah mendengar bunyi alarm dari bendungan yang menjadi penanda adanya peningkatan debit air.
Menurut Banu, setelah alarm berbunyi, petugas bendungan mengambil langkah antisipasi dengan cara mengurangi debit air di Kali Bekasi. Tujuannya agar aliran sungai tidak meluap dan memicu banjir di permukiman warga sekitar.
Namun, proses pengurangan air tersebut dinilai berlangsung cukup lama, sehingga debit air di kali menjadi sangat sedikit.
“Nah itu karena terlalu lama disurutin, jadi lama-lama kan kalau pinggiran ini tanahnya labil. Lama-lama turun dia tanahnya,” ujar Banu saat ditemui pada Jumat (13/2/2026).
Banu menjelaskan, kondisi tanah di bantaran Kali Bekasi memang cenderung rapuh. Saat air terlalu lama disurutkan, struktur tanah di tepi sungai menjadi kehilangan penahan alami sehingga mulai runtuh.
Longsor pertama terjadi di satu titik, lalu tak lama merembet ke titik lainnya.
“Awalnya di situ turun, terus nggak lama pindah ke sana, akhirnya sampai ke Hutan Bambu. Hutan Bambu yang paling parah,” tambahnya.
Akibat kejadian tersebut, beberapa bagian tanah amblas hingga mengganggu akses di sekitar lokasi wisata. Meski demikian, Banu memastikan tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam peristiwa ini.
Walau tidak menimbulkan korban, longsor tetap menyebabkan sejumlah kerugian materiil bagi warga. Banu menyebut beberapa kerusakan yang terjadi antara lain jalan yang amblas, gubuk atau saung yang terdampak, hingga perahu milik warga yang hanyut terbawa arus.
“Paling jalan-jalanannya amblas. Terus gubuk saung di situ. Perahunya dua kebawa arus,” jelasnya.
Setelah kejadian tersebut, warga berharap adanya langkah pencegahan agar longsor tidak kembali terjadi, mengingat kawasan bantaran kali rawan mengalami pergeseran tanah jika kondisi air berubah drastis.
Banu juga meminta agar ke depannya komunikasi antara pihak bendungan dan warga sekitar lebih ditingkatkan, terutama saat ada rencana pengosongan atau penyurutan debit air sungai.
“Harapannya sih ada koordinasi antara bendungan sama warga bantaran Kali Bekasi. Kalau harus disurutin, ya pengennya ada info. Kalau berbahaya, tolong dikasih tahu supaya bisa ada tindakan,” tuturnya.
Sumber : detikcom
Editor : Tia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar