Namun, pemandangan berbeda terlihat di kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Di sana, sejumlah anak justru menghabiskan waktu sore mereka berenang di laut yang dipenuhi sampah dan limbah. Bukan karena tak tahu risikonya, tetapi karena keterbatasan biaya.
Pada Jumat (27/2/2026) sore, sekitar sembilan anak tampak asyik berenang di tepian laut. Ombak yang datang silih berganti dan angin laut yang cukup kencang tak menyurutkan keceriaan mereka. Tanpa pelampung dan tanpa pengawasan orang dewasa, anak-anak itu terlihat begitu terbiasa menaklukkan air laut yang keruh.
Salah satunya Aris (11). Ia mengaku lebih memilih berenang di laut karena tidak perlu mengeluarkan uang. Orangtuanya, kata dia, tidak selalu memiliki biaya untuk membayar tiket kolam renang. Meski sadar air laut tidak sebersih kolam berbayar, Aris tetap merasa senang karena bisa bermain gratis bersama teman-temannya. Ia juga mengakui kerap mengalami gatal-gatal dan luka kecil setelah berenang.
Hal serupa disampaikan Rafa (8). Ia pernah mencoba berenang di kolam dengan tiket murah sekitar Rp3.000. Namun baginya, tetap saja harus membayar. Di laut, ia bisa bermain sepuasnya tanpa memikirkan biaya. Rafa pun tak menampik pernah terluka akibat menginjak benda tajam seperti pecahan kaca, paku, atau serpihan kayu yang tersembunyi di dasar laut.
Elanda (12) awalnya sempat dilarang keras oleh ibunya untuk berenang di laut tercemar. Namun, seiring waktu larangan itu tak lagi seketat dulu. Meski pernah mengalami gatal hingga bentol di kulit, ia tetap kembali berenang karena merasa lebih bebas dan tidak perlu meminta uang jajan tambahan.
Di balik keceriaan tersebut, risiko kesehatan mengintai. Dokter Spesialis Anak Subspesialis Infeksi dan Penyakit Tropis RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Dwinanda Aidina, Sp.A, Subsp. I.P.T, menjelaskan bahwa berenang di perairan yang tercemar sangat tidak disarankan bagi anak-anak. Air yang mengandung limbah atau kuman dapat memicu gangguan kesehatan, terutama jika tidak sengaja tertelan.
Menurutnya, kuman atau zat iritan yang masuk ke saluran pencernaan bisa menyebabkan infeksi atau peradangan. Gejalanya antara lain diare dan muntah, yang bisa muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah berenang. Selain itu, paparan air kotor juga berisiko menimbulkan infeksi mata seperti konjungtivitis—ditandai mata merah, gatal, dan berair—yang umumnya muncul dalam 12–48 jam.
Tak hanya itu, infeksi telinga atau yang dikenal sebagai swimmer’s ear juga bisa terjadi akibat air yang masuk ke saluran telinga. Bahkan, risiko Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dapat muncul dalam hitungan hari hingga satu minggu setelah terpapar air tercemar.
Fenomena ini juga mendapat perhatian dari sisi sosial. Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menilai kebiasaan anak-anak berenang di laut penuh sampah merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang telah lama tercemar. Anak-anak yang tumbuh di kondisi seperti itu cenderung menganggapnya sebagai hal biasa karena tidak memiliki pengalaman pembanding dengan lingkungan yang lebih sehat.
Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa perubahan, dikhawatirkan akan membentuk pola pikir yang kurang peka terhadap isu kesehatan dan kebersihan lingkungan. Anak-anak bisa menganggap situasi tersebut sebagai kewajaran, bukan masalah yang perlu diperbaiki.
Sumber : kompascom
Editor : Tia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar