Hal yang Masih Menjadi Teka-Teki dalam Perampokan Maut di Bekasi

Babe News - Bekasi, 03/03/2026. Peristiwa perampokan tragis yang merenggut nyawa EU (65) dan membuat istrinya, PW (60), dalam kondisi kritis di Perumahan Prima Lingkar Asri, Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, masih menyimpan banyak pertanyaan. Kejadian yang berlangsung pada waktu sahur, Senin dini hari (2/3/2026), hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Aparat kepolisian masih terus menelusuri jejak pelaku, kemungkinan motif, serta barang-barang yang dilaporkan hilang dari rumah korban.
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menduga pelaku masuk dengan cara merusak jendela di bagian depan rumah. Bekas kerusakan pada jendela sudut serta jejak kaki di pagar depan yang berbatasan langsung dengan lahan kosong memperkuat dugaan tersebut. Pelaku diduga memanjat tembok dari arah depan sebelum masuk ke area rumah.
Untuk melacak keberadaan pelaku, unit K-9 dari Direktorat Polisi Satwa turut diterjunkan. Anjing pelacak sempat mengarah hingga ke Jalan Raya Kalimalang, sekitar 20 hingga 30 meter dari lokasi kejadian. Di sana, anjing berhenti cukup lama di sebuah bangunan bekas tempat pencucian motor yang kini difungsikan sebagai tempat penampungan barang rongsokan. Polisi pun memeriksa tiga orang pegawai di lokasi tersebut. Namun, sejauh ini belum ditemukan petunjuk kuat yang mengarah pada barang bukti ataupun keterlibatan pihak tertentu.
Arah jejak yang berhenti di sekitar Kalimalang juga belum memastikan apakah pelaku benar-benar melarikan diri melalui jalur tersebut. Hingga kini, jumlah pelaku pun masih dalam pendalaman. Polisi menduga kemungkinan lebih dari satu orang terlibat, namun belum dapat memastikan secara resmi.
Soal motif, penyidik juga belum mengambil kesimpulan final. Dugaan sementara mengarah pada aksi perampokan. Dari keterangan keluarga, gelang emas yang dikenakan korban perempuan dilaporkan hilang, begitu pula dua kunci mobil. Meski demikian, kendaraan milik korban masih berada di rumah. Hal ini menimbulkan pertanyaan tersendiri mengenai tujuan utama pelaku—apakah semata-mata ingin mengambil barang berharga atau ada motif lain yang melatarbelakangi kejadian tersebut.
Rumah korban diketahui tidak memiliki kamera pengawas (CCTV), sehingga penyidik kini mengandalkan rekaman CCTV milik warga sekitar serta bukti fisik di lokasi. Keterbatasan ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengungkapan kasus.
Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh DNA, anak bungsu korban. Biasanya ia dibangunkan untuk sahur sekitar pukul 03.00 WIB. Namun pada hari kejadian, tidak ada panggilan seperti biasanya. Alarm berbunyi sekitar pukul 04.15 WIB dan ia memutuskan turun ke lantai bawah untuk mencari orang tuanya. Saat memanggil sang ibu, tidak ada jawaban, hanya terdengar suara seperti dengkuran.
Merasa ada yang janggal, ia panik dan mencoba meminta bantuan warga sekitar, namun situasi masih sepi. Ia kemudian menghubungi keluarga. Ketika keluarga datang dan membuka jendela secara paksa, kedua korban ditemukan dalam kondisi tergeletak. Hasil pemeriksaan awal dari pihak rumah sakit menunjukkan adanya luka akibat benturan benda tumpul di bagian belakang kepala.
Hingga kini, berbagai aspek kasus ini—mulai dari jumlah pelaku, motif pasti, hingga jalur pelarian—masih dalam tahap penyelidikan.

Sumber : Kompascom
Editor : Tia
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Populer