Menurut Firdaus, warga menyadari bahwa tingginya curah hujan menjadi faktor utama terjadinya banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi. Namun, ia menilai seharusnya ada upaya pencegahan yang lebih serius, terutama dari pengembang perumahan yang sebelumnya mengklaim kawasan tersebut bebas banjir.
“Memang hujan kemarin intensitasnya tinggi dan banjir terjadi hampir merata. Tapi warga berharap ada langkah konkret dari developer atau pemerintah daerah supaya kejadian seperti ini tidak terus berulang,” ujar Firdaus saat ditemui, Rabu (21/1/2026).
Firdaus juga mengungkapkan hingga kini belum ada permintaan maaf maupun penjelasan resmi dari pihak pengembang kepada warga, meski banjir sudah beberapa kali terjadi. Padahal, saat awal pemasaran, perumahan tersebut disebut aman dari genangan.
“Kami belum pernah mendengar ada permintaan maaf atau penjelasan langsung dari pihak pengembang kepada warga,” katanya.
Banjir terakhir yang terjadi pertengahan Januari 2026 menjadi yang terparah. Ketinggian air mencapai sekitar satu meter, terutama di area jalan perumahan, dan membuat warga khawatir kejadian serupa akan kembali terulang. Kekhawatiran ini semakin besar mengingat jarak perumahan dengan Kali Sepak tergolong sangat dekat.
“Rasa khawatir pasti ada. Makanya kami berencana menghadap ke pihak developer untuk meminta solusi nyata,” ujarnya.
Firdaus menyebut, warga bersama pengurus lingkungan telah melakukan pertemuan internal untuk membahas langkah yang bisa ditempuh ke depan. Salah satu persoalan utama yang disoroti adalah belum tuntasnya normalisasi Kali Sepak.
“Normalisasi Kali Sepak dulu hanya sampai sekitar Pasar VGH. Sementara aliran dari gorong-gorong depan perumahan sampai ke hilir belum disentuh,” jelas Firdaus.
Warga berharap gorong-gorong tersebut dibongkar dan aliran sungai dinormalisasi hingga ke hilir. Bahkan, mereka mengusulkan pemasangan turap atau pondasi di sisi sungai setinggi satu meter untuk mengurangi risiko luapan air.
“Kalau itu dilakukan oleh developer atau pemerintah daerah maupun provinsi, kami yakin perumahan akan jauh lebih aman,” katanya.
Perumahan tersebut tercatat sudah tiga kali terdampak banjir. Banjir pertama terjadi pada Maret 2025 dengan ketinggian air sekitar 60 sentimeter hingga masuk ke rumah warga. Banjir kembali terjadi pada Juli 2025, meski saat itu air tidak sampai masuk ke rumah. Namun, banjir pada 18 Januari 2026 menjadi yang paling parah dengan ketinggian air melebihi kejadian sebelumnya.
Saat ini, perumahan memiliki empat blok yang sudah dibangun, yakni Blok C, D, E, dan F. Dari seluruh blok tersebut, Blok D dan Blok E menjadi wilayah yang paling terdampak. Sekitar 110 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman saat banjir mencapai puncaknya.
Firdaus menjelaskan, banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi secara merata hingga wilayah hulu, termasuk Bogor. Kondisi ini menyebabkan Kali Sepak Gabus meluap dan berdampak ke kawasan perumahan.
“Kalau hujannya hanya lokal biasanya aman. Tapi kalau hujan dari hulu sampai ke sini, aliran sungai tidak tertampung. Katanya Kali CBL dan Kali Bekasi juga meluap, akhirnya air kembali ke wilayah kami,” tuturnya.
Ia menambahkan, perumahan mulai dibangun sejak 2022 dan mulai dihuni pada pertengahan 2023. Selama 2023 hingga 2024, kawasan tersebut tidak pernah mengalami banjir.
“Banjir pertama yang kami alami itu baru Maret 2025. Sebelumnya tidak pernah,” katanya.
Sebelumnya, video banjir di perumahan tersebut sempat viral di media sosial. Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, hingga Rabu sore banjir telah surut. Meski demikian, warga masih menyisakan kewaspadaan dan sebagian memilih belum mengembalikan barang-barang ke dalam rumah karena khawatir banjir susulan.
Sumber : Kompascom
Editor : Tia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar